Perjalanan ini diawali ketika aku berusia 5 tahun, sejak masuk taman kanak-kanak aku mulai mengenal angka-angka. Saat itu aku berminat dalam hal tulis menulis, mencoba untuk merapikan tulisan, karena aku adalah salah satu anak yang melakukan berbeagai aktivitas dengan tangan kiri alias kidal. Aku senang terlihat berbeda dan aku termasuk anak yang cepat memahami dalam belajar tulis menulis. Hari-hari ku lewati seperti anak kebanyakan, banyak bermain tentunya. Belajar operasi penjumlahan dan pengurangan matematika saat itu membuatku menjadi anak yang terobsesi dalam menyelesaikan setiap soal-soalnya hingga aku melupakan sesuatu yang penting yaitu ketelitian, mungkin karena aku masih 5 tahun dan aku tidak begitu peduli akan hal itu.
Memasuki jenjang Sekolah Dasar, ketika setiap anak harus melalui tes untuk bisa melanjutkan sekolahnya, aku pun mengikuti tes itu. Mata pelajaran yang diujikan beragam dari mulai menulis, membaca, Bahasa Inggris, dan Matematika. Pada saat tes Matematika, mungkin aku terlalu bersemangat sampai aku menjadi orang pertama yang menyelesaikan tesnya dan keluar dari ruang kelas tapi kalian tahu? Ketika hasilnya sudah dibagikan aku mendapatkan nilai 50 dari rentang 100. Aku tertawa kecil dalam hati menyadari akan tidak ketelitianku dalam menjawab soal dan menyianyiakan waktu yang tersisa. Tahun-tahun berlalu, aku menginjak kelas 6. Wali kelasku berganti setiap tahunnya dan di kelas 6 ini kami dibimbing oleh guru yang sangat disiplin, rajin, sangat ahli Matematika, dan tegas. Kelasku selalu dibandingkan dengan kelas sebelumnya yang dibimbingnya juga. Beliau selalu mengatakan bahwa kelas ku sangat lelet dalam menyelsaikan Matematika, setiap satu soal selesai dibacakan, beliau langsung menghitung dari satu sampai ada anak yang maju untuk mengumpulkan hasilnya, menandakan berapa detik kita dapat menyelesaikan satu soalnya. Setiap soalnya selalu begitu hingga akhirnya aku pun terobsesi dalam menyelesaikan soal-soal Matematika. Hingga suatu hari, aku terpilih menjadi salah satu siswa terpilih dalam mengikuti Olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar se-Bekasi. Ya, seperti biasa aku memang kurang teliti dan tidak bisa memenangkan perlombaan tersebut. Hingga kini, aku sangat mengagumi beliau, gigih, disiplin, jujur, selalu berdoa, dan tidak boleh sombong itu pesannya kepada kami. Terima kasih pak Hadi.
Aku pun menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar dan siap menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Pertama. Aku sebenarnya siswa yang tidak banyak memiliki prestasi, tetapi minatku dalam pelajaran sains bertambah. Aku sangat menyukai pelajarannya, walaupun banyak dari teman-temanku sulit untuk memahami karna mereka berpendapat penjelasan dari gurunya kurang jelas. Tapi, aku memilih untuk tetap mendengarkannya karena menurutku jika kita terus memperhatikannya walaupun tidak begitu mengerti insyaa Allah, Allah akan membantu dalam memahami ilmu-Nya. Suatu ketika, kakak kelasku meminjam tas ransel milikku untuk mengikuti lomba-lomba olimpiade Matematika, sampai-sampai aku berpikir, “apa bisa ya aku menjadi sepertinya yang selalu mengikuti lomba-lomba di luar?”.
Memasuki dunia Sekolah Menengah Atas, aku memilih untuk tidak pindah sekolah, masih di sekolah yang sama. Ketika SMA, aku baru berpikir tentang apa sebenarnya yang aku minati dan sesuai dengan kemampuanku. Ketika aku mendalami ilmu biologi di SMA aku merasa enjoy tetapi aku memang bukan orang yang imajinatif yang bisa membayangkan apa yang sebenarnya ada di biologi. Sama hal nya pada ilmu Fisika, menurutku itu terlalu rumit untuk dijelaskan jadi aku hanya memahaminya sekadarnya saja. Tetapi, ketika memasuki kelas Matematika, aku merasa sesulit apapun penjelasannya, serumit apapun perhitungannya, dan sebanyak apapun angkanya, aku tetap ingin mencari tahu apa hasilnya, aku berusaha untuk memcahkan permasalahannya, karena guruku pernah berkata “Matematika itu The Queen of Sains” karena beliau beranggapan semua ilmu pasti berkaitan tentang hitung menghitung. Dan aku setuju dengan pendapatnya. dan salah satu guru Tafsir ku pernah berkata, “Matematika itu Filsafat Alam, tidak dapat dipahami secara gamblang, dan perlu nalar yang kuat untuk menakarnya”. Semenjak aku menekuni Matematika, guruku menunjukku untuk mengikuti perlombaan Matematika. Sejak itu khayalan dan keinginanku terwujud. Aku beberapa kali mengikuti perlombaan Matematika walaupun sesekali pun aku tidak pernah menang, tapi aku senang, aku mengetahui apa yang ingin aku gali. Kelulusan SMA pun segera menanti tetapi SMA ku punya syarat kelulusan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah membuat Karya Tulis Ilmiah. Aku pun memilih untuk meneliti dalam bidang sains dan akhirnya aku dibimbing langsung oleh guru Matematika ku. Saat pemilihan judul, guru pembimbingku mengusulkan untuk aku meneliti tentang media pembelajaran Matematika. Akhirnya aku mengikuti sarannya dan membuat Penelitian tentang media pembelajaran Matematika yang berjudul “EFEKTIFITAS MEDIA TA-KU-KA (TAMBAH KURANG KALI) MATRIKS TERHADAP PENILAIAN HASIL BELAJAR SANTRIWATI KELAS 4 PADA POKOK BAHASAN OPERASI MATRIKS“. Akhirnya aku bisa menyelsaikan syarat kelulusan ini dengan baik dan harus segera memilih Universitas. Ketika pendaftaran SNMPTN, aku terpilih sebagai salah satu yang berkesempatan untuk mendaftar SNMPTN dan memilih universitas yang aku inginkan. Dengan berbagai pilihan dan ikhtiar shalat istikhoroh akhirnya kau memutuskan untuk mendaftarkan diriku ke Universitas Pendidikan Indonesia dengan pilihan pertama pada jurusan Pendidikan Matematika dan jurusan Matematika untuk pilihan kedua. Alhamdulillah akhirnya ku bisa menyelsaikan sekolahku dan diterima di Universitas Pendidikan Indonesia pada jurusan Matematika.
Katika orang-orang menjauhkan diri dari Matematika, entah mengapa aku memilih untuk menghampirinya dan mencoba untuk memahaminya dengan baik. Aku yakin, aku bisa menjalani semuanya, karena sesulit apapun itu Allah pasti menemani dan menuntunku untuk memahami ilmu-Nya.